Tabuik Pariaman, Saat Tradisi Menghidupkan Kota



raunholic- Bagi banyak orang, Hoyak Tabuik identik dengan arak-arakan megah yang memenuhi jalanan Kota Pariaman. Namun, di balik dentuman gandang tasa dan lautan manusia, ada cerita lain yang tak kalah menarik: sebuah tradisi yang mampu menggerakkan roda ekonomi hingga ke warung kecil di sudut kota.

Masuk dalam agenda Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026, festival budaya ini tidak hanya menjadi magnet wisata, tetapi juga menghadirkan peluang bagi ribuan pelaku usaha lokal.

Lebih dari Sekadar Festival

Selama rangkaian acara hingga puncak Hoyak Tabuik, hotel, rumah makan, UMKM, pedagang kaki lima, hingga jasa transportasi menikmati lonjakan permintaan. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pariaman, Ferialdi, mengatakan setiap wisatawan yang datang membawa dampak ekonomi melalui pengeluaran untuk menginap, kuliner, belanja, dan berbagai layanan lokal.




Panduan Singkat Berkunjung

  • Cara menuju lokasi: sekitar 2–3 jam perjalanan darat dari Kota Padang melalui jalur pantai barat Sumatera.
  • Estimasi biaya: siapkan sekitar Rp500.000–Rp1.000.000 untuk perjalanan singkat, termasuk transportasi, makan, dan penginapan sederhana.
  • Waktu terbaik: datang sejak pagi atau sehari sebelum puncak Hoyak Tabuik agar terhindar dari kepadatan.

Agar Perjalanan Lebih Nyaman

Kenakan pakaian yang ringan dan menyerap keringat, gunakan alas kaki yang nyaman untuk berjalan jauh, serta siapkan topi atau payung karena sebagian besar kegiatan berlangsung di ruang terbuka. Tetap ikuti arahan petugas dan hormati prosesi budaya yang sedang berlangsung.




Itinerary Sehari di Pariaman

  • Pagi menikmati sarapan khas Minang dan suasana pantai.
  • Siang berburu kuliner serta produk UMKM lokal.
  • Sore menyaksikan rangkaian prosesi Hoyak Tabuik.
  • Malam menikmati pusat kuliner sebelum kembali atau bermalam.

Pengalaman yang Layak Dicoba

Bagi wisatawan yang ingin menikmati budaya tanpa terburu-buru, menginap semalam menjadi pilihan terbaik. Selain memperoleh sudut pandang lebih leluasa saat prosesi berlangsung, pengunjung juga memiliki waktu mengeksplorasi kuliner dan destinasi sekitar Kota Pariaman.

Keberhasilan Hoyak Tabuik 2026 menunjukkan bahwa tradisi bukan hanya warisan budaya. Ketika dikelola dengan baik, sebuah festival mampu menghidupkan suasana kota, memperkuat ekonomi masyarakat, sekaligus memberikan alasan bagi wisatawan untuk kembali berkunjung. (*)