Kampia, Tas Unik Minangkabau Yang Mulai Terkikis

 
Tas Kampia yang banyak dijual di Pasar Atas - Bukittinggi ( Dok. Jejak Langkah O )

#raunholic --- Jika Anda berkunjung ke Pasar Atas Bukitttinggi , Anda akan menemukan sejenis tas anyaman yang unik dengan rajutan bernuansa etnik.Benda mirip tas atau keranjang kecil tersebut dalam bahasa Minang namanya kampia.  

Kerajinan tangan ini dibuat dengan cara menganyam rumput mansiang; rumput yang sering tumbuh di tabek (kolam ikan) dan kemudian disauik (dilicinkan), dijemur dan diwarnai sesuai keinginan. Di Pasar Atas Bukitttinggi yang berada dekat dengan Jam Gadang, yang tanpa tutup dijual seharga Rp 30.000,- dan yang pakai tutup Rp 35.000,-.

Dahulunya, tas unik ini sering digunakan sebagai pengganti tempat bawaan (biasanya beras yang dikemas di dalam kantong kresek atau dibungkus dengan deta [saputangan]) saat manjanguak (melayat) atau pergi baralek(kenduri/pesta pernikahan menurut adat Minang). 

Namun, dewasa ini kebiasaan tersebut mulai terkikis oleh zaman, seringkali kampia hanyalah dipandang sebagai salah satu cenderamata khas Minangkabau, sehingga terkesan tidak terlalu diminati. Padahal, meskipun tidak sepopuler dulu, kerajinan tradisional ini masih bisa dialihfungsikan untuk penggunaan sehari-hari, salah satunya sebagai tempat kosmetik .

Berwisata ke Minangkabau, Anda tidak saja disuguhi keindahan alam,budaya dan kuliner khas masyarakat setempat, tetapi juga dapat berburu oleh-oleh atau cinderamata spesifik untuk dibawa pulang. Nah... Kampia bisa menjadi salah satu yang bisa Anda bawa pulang sebagai cinderamata.

Kampia bisa juga Anda temui saat berwisata ke Ambun Pagi  di Kecamatan Matur - Kabupaten Agam, Anda dapat menikmati kesejukan udara pada bukit dengan pemandangan alam mempesona ke sekitar Danau Maninjau, sembari menikmati kuliner dari labu, pulangnya dapat membawa oleh-oleh terbuat dari mensiang pandan terutama tas yang biasa disebut dengan kampia tersebut.

Produk khas warga Ambun pagi ini dibuat dalam berbagai bentuk dan ukuran, ada yang berupa tas biasa, kambuik enam segi, dompet dan tikar, dengan ukiran berbagai motif dan warna-warna menarik.
Produk ini dapat dibeli pada kios-kios yang ada di sekitar lokasi objek wisata setempat dengan harga puluhan sampai ratusan ribu rupiah, tergantung ukuran dan modelnya.

"Harga dipatok berdasarkan ukuran dan tingkat kesulitan membuatnya" kata Ni Jas salah seorang penjual kampia di Matur.

Bahan baku tas kampia adalah daun pandan. Pandannya ditanam di Matur, begitupun yang membuat zat pewarna dan yang mengerjakan orang Matur asli. Kerajinan pembuatan kampia pandan merupakan warisan nenek moyang sejak dulu yang masih bertahan sampai kini.

Namun pemasarannya masih terbatas di Matur dan peminatnya kebanyakan para turis manca negara, sehingga belum diproduksi secara massal.

Selain kampia pandan, di Kecamatan Matur terdapat aneka macam kuliner terbuat dari labu dan kacang barandang khas produk warga nagari Lawang.

Kecamatan Matur yang dijadikan sebagai destinasi wisata prioritas oleh Pemkab Agam memiliki sejumlah objek wista menarik diantaranya Puncak Lawang, Ambun Tanai dan Ambun Pagi. (Sumber : Haluan dan referensi lainya )

0 Response to "Kampia, Tas Unik Minangkabau Yang Mulai Terkikis "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel