Mengembalikan Marwah Deta Melalui Ajang Minangkabau Silek Retreat 2017


#raunholic -- Event perdana yang berskala Internasional , Minangkabau Silek Retreat 2017 akhirnya berhasil terlaksana dengan sukses. Banyak kisah dan kesan mendalam dari para Pandeka Silek yang hadir dalam Event tersebut. Baik yang berasal dari mancanegara maupun dari dalam negeri sendiri. Tekad untuk terus melestarikan tradisi yang terkandung dalam Silek Minangkabau semakin kokoh di hati seluruh Pandeka dan Tuo Silek yang hadir.

Dan di penghujung event , Panitia menandai secara simbolis dengan pemasangan Deta  Minangkabau Silek Retreat  kepada Peserta Internasional dalam acara malam penutupan Alek Minangkabau Silek Retreat di Komplek PDIKM Kota Padangpanjang, 29 agustus 2017. Para Peserta Internasional sangat terkesan pada sesi pemasangan Deta ini. 


Deta bukan sekedar ikat kepala biasa. Dalam filosofi Minangkabau, Deta memberi arti tentang kewibawaan dan penghormatan terhadap pemakainya. Deta merupakan bagian dari pakaian adat. Dalam Event Minangkabau Silek Retreat 2017 ada pesan yang terangkat dalam kebanggaan berpakaian tradisi Khas Minangkabau. Pertama adalah " Bangga Memakai Galembong" dan yang kedua adalah kebanggaan memakai " Deta ".

Berikut sekelumit catatan tentang Deta , ikat kepala yang memberikan kewibawaan bagi para lelaki Minangkabau.

Deta ( Destar )

Deta atau Destar adalah tutup kepala atau sebagai perhiasan kepala tutup kepala bila dilihat pada bentuknya terbagi pula atas beberapa bahagian sesuai dengan si pemakai, daerah dan kedudukannya. 



Deta adalah ikat kepala yang dipakai lelaki Minangkabau. Deta di Minangkabau banyak ragamnya, mulai dari yang simple hingga yang rumit dengan banyak lipatan seperti yang dikenakan datuk. Pada masa dahulu tidak ada lelaki Minang berkeliaran di luar rumah dengan kepala terbuka, deta dianggap sebagai wibawa dan identitas pemuda Minangkabau

Deta raja Alam bernama “dandam tak sudah” (dendam tak sudah). Penghulu memakai deta gadang (destar besar) atau saluak batimbo (seluk bertimba). Deta Indomo Saruaso bernama Deta Ameh (destar emas). Deta raja di pesisir bernama cilieng manurun (ciling menurun). 

Destar atau seluk yang melilit di kepala penghulu seperti kulit yang menunjukkan isi dengan pengertian destar membayangkan apa yang terdapat dalam kepala seorang penghulu. 



Destar mempunyai kerut, merupakan banyak undang-undang yang perlu diketahui oleh penghulu dan sebanyak kerut dester itu pulalah hendaknya akal budi seorang penghulu dalam segala lapangan. Jika destar itu dikembangkan, kerutnya mesti lebar. 

Demikianlah paham penghulu itu hendaklah lebar pula sehingga sanggup melaksanakan tugasnya sampai menyelamatkan anak kemenakan, korong kampung dan nagari. Kerutan destar juga memberi makna, bahwa seorang penghulu sebelum berbicara atau berbuat hendaklah mengerutkan kening atau berfikir terlebih dahulu dan jangan tergesa-gesa.

Pemakaian Deta masih populer hingga akhir abad ke-18 hingga akhirnya tergusur oleh perkembangan zaman. Sekarang kita hanya dapat melihat pemuda mengenakan deta hanya pada foto-foto lama koleksi museum Belanda #KITLV dan foto Uda Uni Sumatera Barat yang dikenakan pada saat sesi pemotretan foto .


Ada pergeseran pengertian di kalangan generasi sekarang. Saat menyebut nama deta, kebanyakan pemuda Minang masa kini berpikir deta hanyalah pakaian datuk. Budaya berdeta memang ditinggalkan oleh pemuda Minang, sehingga yang nampak menggunakan deta hanyalah datuk atau pangulu dalam acara adat, maka tak heran muncul kesimpulan seperti itu.

Namun beberapa daerah berhasil mempertahankan tradisi pemakaian ikat kepala mereka, seperti halnya Jawa masih banyak orang jawa yang mengenakan blangkon dalam melakukan aktifitas mereka, begitu juga dengan Bali; mulai dari pegawai hotel sampai masyarakat memakai udeng, siapa yang tidak bangga memakai udeng ketika berkunjung ke Pulau Bali. 

Pemerintah daerah Bali juga mengimbau para pegawainya untuk memakai pakaian adat Bali sekali dalam seminggu. Dan akhir-akhir ini Gubernur Jambi berhasil mempopulerkan Ikat kepala khas Jambi. Dalam berbagai kesempatan tampak Bapak Zumizola memakai tanjak Jambi, sehingga pemuda jambi mengikuti trend tersebut. Lalu bagaimana dengan nasib Deta Minangkabau?

Apakah cara yang efektif untuk mengangkat marwah deta Minangkabau di tanahnya sendiri?

Filosofi Deta

Deta yang terdiri dari deta saluak dan deta bakaruik (berkerut). Deta ini melambangkan akal yang berlipat-lipat dan mampu menyimpan rahasia. Deta dipasang lurus melambangkan keadilan dan kebenaran. Kedudukannya yang longgar melambangkan pikirannya yang lapang dan tidak mudah tergoyahkan. Sesuai dengan ungkapan berikut ini:

Badeta panjang bakaruik,
Bayangan isi dalam kulik
Panjang tak dapek di ukua
Eba tak dapek di bilai

Salilik lingkaran kuniang
Ikek santuangan di kapalo
Tiok katuak ba undang – undang
Tiok liku aka manjala

Dalam karuik budi marangkak
Tambuak dek paham tiok lipek
Lebanyo pandidiang kampuang
Panjangnyo pandukuang anak –kemenakan

Hamparan di rumah gadang
Paraok gonjong nan ampek
Di halaman manjadi payuang panji
Hari paneh tampek balinduang
Kalau hujan tampek bataduah
Dek nan salingkuang cupak adat
Nan sapayuang sapatagak

Destar "Dandam tak sudah" Mahkota Raja

Destar/Deta Dandam tak sudah (Minang) Tengkolok/solek Dendam tak sudah (Negeri Sembilan) adalah mahkota khusus yang dipakai oleh Raja di Minangkabau, yang mana deta ini dipasang pada bagian kepala seorang raja.

Deta ini telah dipakai oleh raja-raja di daerah minangkabau semenjak dahulu kala, mulai dari Raja Pagaruyung di Tanah Datar hingga Sultan kesultanan inderapura di Pesisir Selatan Sumatera Barat. 


Sultan Alam Bagagar Syah (Yang Dipertuan Pagaruyung)

Sedangkan menurut cerita lisan oleh masyarakat Negeri Sembilan Malaysia, orang pertama memakai Deta Dandam tak sudah adalah Tuk Memperang Abdullah yang merupakan seorang pegawai 99 Istana suku Tanah Datar, Kampung Sawah Liat Seri Menanti.

Pakaian Tradisional Negeri Sembilan Malaysia

Dalam penggunaannya deta ini lebih populer di Negeri Sembilan daripada di Sumatera Barat sendiri. Di Negeri Sembilan deta ini sudah merupakan pakaian adat, bahkan deta ini dipakai oleh rakyat biasa seperti dalam busana pengantin dan dipakai juga dalam acara-acara besaar dengan syarat pemakaiannya disertakan dengan pakaian/baju kurung.

Pasangan Muda Mudi di Negeri Sembilan

Sementara di Minangkabau deta ini hanya di pakai oleh Raja. Datuk/Penghulu tidak memakai deta ini, begitupun marapulai/ pengantin pria tidak memakai deta ini dalam acara baralek. Pengantin pria juga tidak diperkenankan memakai pakaian datuk atau penghulu atau sebaliknya, karena dianggap melanggar peraturan adat. Semua sudah ada aturan pemakaian deta-nya.

Yang Dipetuan Rajo Alam Pagaruyung dan Permaisuri


Gambar Tuanku Abdul Rahman yang menjadi Yang Di-Pertuan Agong pertama pada tahun 1957 keturunan Minang Negeri Sembilan dalam busananya mengenakan deta dandam tak sudah dalam pecahan 50 Ringgit.



Khusus untuk raja di Malaysia di bahagian hadapan deta ini dipasangkan anak bulan dengan bintang pecahempat belas yang diperbuat daripada emas putih dan ditengah-tengah bintang terletak lambang Kerajaan Malaysia yang berwarna-warni.


Pasangan Pengantin di Negeri Sembilan Malaysia, di mana mempelai pria juga mempergunakan deta dandam tak sudah. 


Realitas semakin terpinggirkannya pemakaian Deta di kalangan masyarakat Minangkabau memang perlu menjadi perhatian khusus. Mengingat Deta bukan hanya sekedar fashion dan tradisi dalam berpakaian. Namun banyak pelajaran hidup dan filosofi serta pewarisan tradisi yang perlu dilestarikan.

Minangkabau Silek Retreat 2017 telah berusaha mengembalikan Marwah Deta dalam kehidupan masyarakat Minangkabau saat ini. Melalui Event tersebut, selain menjadi ajang silaturahmi para Pandeka dan Penggiat Silek Minangkabau, membudayakan memakai Deta dalam keseharian bisa dikatakan berhasil. Terutama bagi peserta yang hadir dari Mancanegara.

Ini sebuah langkah awal yang baik. Semoga pesan moral dalam melestarikan kebanggaan mengenakan Galembong dan Deta yang diusung pemrakarsa Minangkabau Silek Retreat 2017 bisa ditindaklanjuti oleh staholder yang ada. Baik dari unsur pemerintah, akademisi, Ninik Mamak, Kenagarian, Budayawan, dan masyarakat pada umumnya.

#padangpanjang
#alekminangkabausilekretreat
#pesonapadangpanjang
#silektradisi
#banggapakaigalembong
#pesonaindonesia
#wonderfullindonesia


Sumber:

http://ms.wikipedia.org
FP :anak-anak Minang 

1 Response to "Mengembalikan Marwah Deta Melalui Ajang Minangkabau Silek Retreat 2017"

  1. Saya akan menikah tahun ini, saya berencana menggunakan tanjakini, di padanf dimana bisa mendapatkannya, trims

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel